DI depan layar komputer Mashall menemukan Banglore. Di belahan Barat Asia itu, pria 73 tahun tersebut menjawab segala kecemasan atas penyakit akutnya. Berselancar ke sana ke mari di internet, Mashall menemukan paket wisata kesehatan yang ditawarkan rumah sakit di kawasan permai Banglore. Medical Tourism; sebuah konsep wisata yang patut dipikirkan di Pulau Samosir.
Pulau Samosir
CERITA menarik ini datang dari India. Muncul dari sebuah rumah sakit yang jauh dari keriuhan, di tepi sebuah danau. George Mashall yang dinyatakan menderita jantung koroner oleh dokternya di Inggris berangkat sejauh 5000 mil sekadar menjalani operasi by pass. Ia terbang dari Bradford, kampung halamannya di Inggris, ke Banglore di India.
Dengan biaya 4.800 Pounds, termasuk tiket pesawat, Mashall mendapat dua keuntungan sekaligus: hemat 14.000 Pounds serta keindahan alam Banglore. Salah satu kawasan paling indah di India itu sudah sejak lama meninggalkan konsep wisata konvensional, dan kini beralih mempromosikan alamnya lewat wisata kesehatan (medical tourism).
”Everyone’s been really great here. Kami merasakan kenyamanan di sini. Saya dirawat sekian bulan di NHS (RS nasional di Inggris- red), tapi boleh saya katakan perawatan dan fasilitas di sini tidak kalah jika dibandingkan di negara kami,” ungkap Mashall seperti dikutip dari situs harian terkemuka Inggris The Guardian.
Begitupun Mashall tak asal berangkat. Sebulan sebelumnya ia berkomunikasi melalui surat elektronik (e-mail) dengan konsultan rumah sakit Banglore.
”Apa alasan saya tidak ke Banglore? Di Eropa dihitung-hitung masih lebih mahal ketimbang di sini. And the staffs speak English. Bagi saya, tidak ada masalah untuk datang kembali ke sini,” katanya meyakinkan.
Laporan The Guardian edisi 1 Februari 2005 itu menarik disimak. Dalam sub judulnya saja tebersit keresahan: ”This UK Patient avoided the NHS list and flew to India for a heart by pass. Is health tourism the future?” Sedemikian kuat kah terobosan konsep wisata kesehatan di masa depan?
Studi Confederation of India Industry (CII) dan konsultan McKinsey dengan lugas menyodorkan angka 100 juta Rupee untuk nilai penghasilan Banglore dari paket wisata kesehatan pada 2012. Angka itu 500 persen lebih banyak dibanding 2005.
Dari catatan 2004 saja terdata 150.000 wisman yang datang ke India (Banglore) untuk menjalani terapi dan pengobatan. Jumlah wisman meningkat 15 persen antara 2004-2005. Apa kunci sukses Banglore?
Dengan modal dokter-dokter terlatih dan ongkos yang relatif murah, kawasan itu meletakkan konsep wisata mereka secara serius. Tidak tanggung-tanggung. Untuk membangun rumah sakit saja, pemerintah Banglore sengaja menyulap puluhan hektar lahan tidur. Areal ini belum termasuk infrastruktur pendukung.
Dengan kesadaran bahwa pasien yang datang adalah mereka yang berasal dari negara-negara maju, pihak pengelola menyiapkan bandara, layanan antar-jemput dengan mobil eksklusif, fasilitas internet, dan tenaga perawat pribadi.
Segala kenyamanan ini yang kelak dikombinasikan dengan aneka tradisi khas India, seperti Yoga, seni pernafasan yang kesohor itu. Disamping melengkapinya dengan perjalanan wisata ke Taj Mahal atau pusat-pusat perbelanjaan tradisional.
Dilaporkan, total operasi yang dilakukan sejumlah rumah sakit di India yang mengawinkan paket pengobatan dan plesiran ini mencapai 4.200 kali operasi. Kemampuan dokter-dokter India yang menggawangi rumah-rumah sakit itu juga tidak diragukan.
“Soal ini orang-orang tahu kami. Rata-rata kematian pasien pascaoperasi bypass tidak lebih dari 0,8 % dan kasus infeksi yang diakibatkannya rata-rata 0,3 %. Angka ini masih di bawah rata-rata kasus di dunia, yaitu 1,2 % untuk kematian pascaoperasi dan 1 % untuk kasus infeksi,” ujar Direktur RS Banglore, Dr Trehan, kepada Randeep Ramesh dari The Guardian.
Trehan meyakinkan,”Tidak seorang pun yang bertanya lebih jauh tentang kemampuan dokter-dokter India. Saya bisa tunjukkan dimana pun di rumah-rumah sakit besar di Amerika atau Inggris, tidak ada dokter India yang tidak dipakai di sana. Mereka itulah yang kami bawa ke sini.”
Namun tidak sedikit pasien yang awalnya merasa keliru. Mashall misalnya. Ia mengaku terkejut saat menginjakkan kaki pertama kali di kota India. Ketika kendaraan yang ditumpanginya keluar dari bandara, ia berhadapan dengan sumpeknya lalu lintas, pejalan kaki yang menyeberang sesuka mereka, atau orang-orang yang berteriak di sana-sini.
”Suasananya panas sekali. Hampir semua kendaraan di jalan membunyikan klakson secara bersamaan. Saya berpikir, ‘Wah, saya berada di tempat yang salah’,” Mashall mengenang.
”Tapi itu pengalaman di luar sana. Di sini saya beristirahat di kamar yang bersih, sejuk, lengkap dengan televisi kabel dan seorang perawat pribadi. Saya begitu menikmatinya. Ini paket wisata yang indah. Saya bisa menghirup udara yang segar, atau berjalan-jalan di tepi danau di pagi yang dingin. Selain pemandangan yang indah, ada juga aktivitas manusia yang berbeda dari yang saya lihat di Eropa. Jujur saja, saya betul-betul tidak peduli apa yang terjadi di luar sana,” paparnya.
Pengakuan Mashall adalah gambaran wajah baru pariwisata India. Munculnya wisata kesehatan mengimbas ke ragam sektoral. Keuntungan langsung yang direguk masyarakat setempat adalah perputaran sektor-sektor riil. Meningkatnya produksi dan penjualan suvenir, restoran yang menjamur, atau penyerapan tenaga kerja lokal adalah sebagian imbas atas keberhasilan wisata ini.
Dibalik itu semua, pemerintah India dan pemerintah lokal Banglore tidak tinggal diam saat konsep medical tourism diapungkan ke permukaan. Dengan getol mereka menggandeng investor- khususnya jaringan rumah sakit nasional dan internasional- agar bersedia membangun rumah sakit di Banglore. Lahan disiapkan. Izin dipermudah. Ada pula fasilitas potongan pajak dan insentif selama lima tahun. Media promosi juga disediakan oleh pemerintah setempat.
Hasilnya? Pada 2006 silam, lima rumah sakit baru berstandar internasional di kawasan potensial di India memasuki tahap penyelesaian. Rumah sakit Banglore mengalami kemajuan pesat: tambahan ruang rawat inap dilengkapi 350 tempat tidur baru. Pihak investor dibebaskan mengembangkan bisnis wisata kesehatan mereka sejauh itu tidak melanggar ketentuan. Pemerintah sebatas mengikutinya.
Ternyata yang juga baru disadari adalah menyangkut kepulangan dokter-dokter andal itu ke India. Komposisi dokter di negara itu sebelumnya 1:2500 penduduk. Kini kepulangan itu membuka kesempatan berobat yang sama diantara yang miskin dan kaya.
Banglore bukan mustahil disamakan dengan Samosir. Kabupaten yang dikaruniakan keindahan Danau Toba ini tinggal meneguhkan komitmen.
”Modal alam sudah dimiliki dan pelengkapnya adalah infrastruktur,” kata Drs Henry Sitorus, MA, staf pengajar Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara, dalam perbincangan dengan Sumut Pos, belum lama ini.
Ia yakin medical tourism punya masa depan yang kuat, dan konsep itu juga teramat cocok diimplementasikan di Pulau Samosir.
Dikatakan Henry, ”Rumah-rumah sakit di tengah kota yang membangun lingkungan mereka secara artifisial mulai ditinggalkan orang. Lihat saja (mereka) yang pergi berobat ke Malaka, India, atau tempat yang lain. Tanyakan alasannya, mereka bilang sekalian jalan-jalan atau plesiran. Jadi di sini, pengobatan tak lagi identik dengan obat, operasi, atau istilah medis yang menakutkan itu. Ada kebutuhan batin yang diisikan kepada si pasien. Jadi bukan semata-mata hubungan medis antara yang sakit dan yang mengobati.”
Alangkah baiknya Samosir digerakkan ke arah sana. Ketergantungan Pemkab atas DAU/DAK ditinggalkan dengan cara merintis berbagai peluang PAD dari sektor pariwisata.
Konsep ini cuma butuh komitmen. Soal keterbatasan infrastruktur atau anggaran, menurut Henry, dapat dikomunikasikan dengan pemerintah provinsi dan investor yang berminat.
Hal terpenting adalah kesatuan hati Pemkab, DPRD, dan masyarakat untuk menciptakan Pulau Samosir sebagai Island of Medical Tourism.
Ada banyak PR untuk memulainya.
Ketidakpastian aturan, yang dikhawatirkan oleh investor umumnya, diberangus dengan menetapkan areal mana di pinggir Danau Toba yang diperuntukkan sebagai kawasan bisnis dan komersial, pertanian, dan permukiman penduduk. Ketentuan ini dibakukan untuk mencegah konflik sosial dikemudian hari. Keringanan pajak patut diperhatikan mengingat efek wisata ini begitu besar terhadap masyarakat Samosir.
Selain penyerapan tenaga kerja lokal, sektor-sektor informal yang belum bangkit akan bersinar terang. Sektor jasa dan bisnis yang bergerak maju dipastikan ikut menggairahkan harga tanah yang selama ini mati dan kurang dihargai.
Industri lokal adalah penunjang wisata ini. Sejak dulu di Pulau Samosir berkembang home industry yang sebagian produknya dijadikan suvenir. Misalnya, industri kerajinan bambu, rotan, atau kacang di Pangururan, ukiran kayu di Simanindo, tenun ulos di Sianjur Mula-Mula, serta batu bata di Palipi dan Nainggolan. Di Desa Ronggur Ni Huta dan Harian Boho, pasien dapat dihibur oleh alunan musik tradisionil suling dan hasapi (kecapi).
”Efeknya pasti luar biasa. Saya pikir (konsep) itu amat dicocok dikembangkan di sana. Cari investor dan cepat bergerak,” ujar Henry meyakinkan.
Siapapun sepakat, Pulau Samosir yang permai dan sulit dicari tandingannya di dunia, akan jauh bermanfaat jika dieksplorasi bagi kemajuan perekonomian setempat.
Samosir berpeluang menyamai Banglore. Itu jika kita tidak senantiasa terjebak oleh romantisme kampung halaman.
Ayo belajar dari Banglore! (**N)
*) Tulisan ini telah dimuat di Harian Sumut Pos edisi 06 Februari 2007
Pulau Samosir paling Top dah!!!!!
Komentar oleh Deasy — 12-04-2008 @ 4:18 am
Jun
Komentar oleh Jun@rto — 12-04-2008 @ 12:11 pm
ehmmm SAMOSIR amazing great…I think so…
come to SAMOSIR ISLAND
Komentar oleh oelil Simbolon — 12-04-2008 @ 6:49 am
samosir, pulau na mansai uli…..
ro hamu booooo……….
Komentar oleh juliana — 12-04-2008 @ 1:16 pm
ada kenangan terindah di pinggir samosir yaitu jembatan porsea
kengan yang terpupuk amat dalam .namun rasa ini takakan berubah ,jika seandainya daku di brikan satu permintaan ,ku ingin
kenangan itu terulang lagi ,di lubuk hati
Komentar oleh lasria marbun — 12-04-2008 @ 5:31 am
danauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
toba emank pling bagus.
wah udaranya sejuk bgt tau
Komentar oleh irna — 12-04-2008 @ 1:23 pm