valdesz djoenianto

DISCUS | 12-04-2008

Tesis musik progresif Indonesia

Reformasi tidak hanya melanda dunia politik Indonesia. Agaknya, para musisi pun perlu bersikap reformis. Nampaknya Discus memelopori langkah ini.

(tulisan ini dikutip dari www.wartajazz.com)

Inovatif, itulah kata kunci yang tepat untuk menggambarkan kelompok Discus. Seperti dalam Discus 1st – album perdana mereka – kental sekali terasa usaha kreatif bereksperimen dengan pola-pola komposisi yang lain dari yang lain.

Memang, bagaimanapun, akar pada nuansa-nuansa mainstreams seperti jazz, rock, klasik, tidak bisa tidak, tetap ada.

Yang membedakan sangat jelas adalah kreatifitasnya untuk selalu inovatif, ketimbang sekadar duplikatif, dalam menghadirkan struktur bermacam pola komposisi dari lagu ke lagu.

Terdengar unik dan asli!

Menarik untuk mengamati mengapa Discus berani tampil beda. “Menampilkan pola-pola komposisi orisinil, justru karena kami melihat bahwa segmen progresif boleh jadi adalah satu-satunya wilayah yang relatif amat sulit untukmenegaskan sebuah identitas” kata Iwan Hasan, yang menjadi motor kelompok Discus.

“Apalagi mencari yang khas Indonesia”, sambungnya. Musik progresif itu sendiri, secara historis memang sulit dilepaskan dari rock -yang di Indonesia sering diistilahkan art rock.

Dalam website Kinesis (sebuah label di Amerika yang mengkhususkan diri pada musik-musik jenis ini), disebutkan aliran ini mulai berkembang sekitar akhir tahun 60-an atau awal 70-an, ketika batas-batas musik rock diperluas dan menjelajah masuk ke dalam elemen-elemen genre lainnya seperti klasik dan jazz.

Konsekuensinya, usaha infusi dalam musik progresif, mau tak mau menuntu, selain virtousity tinggi, juga wawasan luas para musisinya.

Disebutkan, John Lennon dkk dengan The Beatles-nya mulai menggagaskan infusi elemen berbagai genres selain rock’n roll, dalam karya-karya mereka akhir 60-an.

Kemudian menyusul nama-nama besar di era 70-an seperti King Crimson; Emerson; Lake & Palmer; Yes; Genesis; Gentle Giant; dan PFM yangmeramu kompleksitas melodi, lirik serta rhythm dengan begitu imajinatifnya.

Dari kubu Jazz, Miles Davis melakukan ground-breaking melalui rekamannya Bitches Brew.

Langkah Davis pun diikuti berbagai kelompok musik instrumental electronic jazz-rock fusion seperti Weather Report, The Mahavisnu Orchestra and Return To Forever.

Iwan Hasan, agaknya, bakalan menjadi sebuah nama yang memberi warna khusus dunia musik Indonesia sebentar lagi. Dalam Discus 1st, terlihat usaha kerasnya menjejaki proses dialektika di antara polarisasi estetika Barat dan Timur, dengan segudang masalahnya.

Seperti ditulis Franki Raden ketika Discus tampil pada JakJazz 97: “Latar belakangnya sebagai komponis-gitaris yang menempuh pendidikan formal di Amerika menjelaskan mengapa karya-karyanya tergarap secara akademis dan sangat Inovatif. Formasi instrumentasinya menarik (biola, gitar, saxophone, keyboard, drum, perkusi elektronik dan bas gitar), harmonisnya penuh dissonan, struktur komposisinya kokoh, idiomnya progresif, kadang diselingi oleh keelokan warna musik lokal” (Kompas, Des 97).

Di sisi lain, seperti diulas dalam kolom Harian Kompas eputar Pekan Komponis IX di Gedung Kesenian Jakarta: “Dari khazanah tradisi musik barat, muncul Iwan Hasan (31).

Ini nama baru di kalangan pemusik kontemporer di Indonesia, yang berkukuh pada disiplinnya dan tak tergiur untuk berduyun memasuki wilayah musik tradisi entah bekalnya cukup atau tidak” (Kompas 21 Maret 1998).

Kalau begitu, cukup optimis rasanya untuk mengatakan Discus sat ini siap menjadi thesis yang menjawab apa itu musik progresif Indoesia sesungguhnya. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana kita mengapresiasi karya-karya kita sendiri.

Sekadar catatan, album Discus 1st telah beredar di pasaran Eropa melalui Mellow Records – sebuah perusahaan Italia.

Dan, Paolo Rondelli, International Business Affairs perusahaan tersebut meuji: The Whole album is excellent.


Ditulis dalam LenTeRA!!

& Komentar »

  1. Hey!
    Gimme link to download XRUMER 5.05 Palladium FREE!
    Thank you…
    Very-very much.
    I’m so need this program for promote my online projects!!! This software is the best thing for online promo and mass posting, you know…

    And, dont send me XRumer 2.9 and XRumer 3.0 – that versions are too old!

    P.S. Google cant help me((((

    Komentar oleh XRumerMonstroZ — 12-04-2008 @ 10:26 pm

  2. Guys I ve heard that Inet Bizness booming right now! With all the Newspapers and Radio chanel bancrupt advertisement shifted online! Are you making cash of this web now!

    Komentar oleh adassalelveli — 12-04-2008 @ 10:52 pm

  3. I can tell that this is not the first time at all that you write about the topic. Why have you decided to touch it again?

    Komentar oleh Vince Delmonte — 12-04-2008 @ 8:57 pm

  4. Planning on vacation alin condition? I bet no Mexico see for you? lol desire that Swine flu resolution be during the course of swiftly!

    Komentar oleh KiteAllette — 12-04-2008 @ 5:58 pm

  5. I was moral reading a question on how to make your down comforter all unimportant again and scarcely all the answers said that you can relate fool someone some tennis balls in the dryer to amount to that happen. how to develop tablesSo how does that work exactly? Why does this happen? Can you bring into play something else pretty than tennis balls? Appreciation you!
    how to play doubles in tennis

    Komentar oleh FabKigmaagege — 12-04-2008 @ 6:37 am

  6. For a second everything went quiet in the cab, then the driver said, “Look mate, don’t ever do that again. You scared the daylights out of me!”

    Komentar oleh clicultisse — 12-04-2008 @ 1:00 am


Ada yang ingin disampaikan? RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Pada 1999 sempat meminati fotografi jurnalistik. Ikut kursus fotografi dasar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (angkatan V) di bawah asuhan kurator Yudhi Soeryoatmodjo dan Hermanus E. Priyatna (kini redaktur foto Antara). Selama beberapa waktu magang sebagai stringer di Biro Foto Antara dan bekerja sebagai editor foto untuk sebuah proyek buku di Biro Foto Indopix Jakarta bersama Tantyo Bangun (mantan wartawan Matra/kini Pimred ''National Geografic'' edisi Indonesia). Pada Desember 2001 menyelesaikan studi di jurusan Kriminologi Fisip UI, pindah ke Batam, dan menetapkan hati berkarir sebagai wartawan tulis. Kini, bekerja sebagai wartawan di Harian Sumut Pos sejak September 2006, setelah dari 2002-2006 bertugas di Batam Pos, koran daerah yang juga tergabung dalam Jawa Pos News Networking (JPNN). Saat ini sedang menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed