valdesz djoenianto

Dari ESD- UNESCO di Bangkok: Catatan Perjalanan (2) | Sep 08th 2007

Belajar dari Komunitas Etnik Thai Yuan

c.jpgSAO HAI. Wilayah di Timur Laut Thailand ini menyimpan sejarah panjang tentang cara mempertahankan diri dari gempuran modernisasi. Komunitas yang bertahan tanpa perhatian yang berlebih dari pemerintah, dan tidak menyerahkan diri untuk didikte oleh pasar. 

Sao Hai, Thailand 

KEMUDIAN dilestarikanlah tradisi tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka bertahan membuat kain tenunan khas Thailand, mendirikan koperasi yang beranggotakan 10-15 keluarga, serta memajang sendiri hasilnya di galeri.

***

AMNUAY Saenjay menggerakkan tangan dan kakinya bergantian. Sudah empat jam perempuan 45 tahun itu duduk di atas alat tenunnya. Tangan kirinya menarik seutas tali yang tergantung di atas kepala, sementara tangan lainnya menggeser sebilah kayu. Kedua kakinya bergerak seperti mengayuh sepeda.

Ada dua warna berbeda yang ditenun dari kaki itu. Kain tenunannya membentuk sebuah motif khas dengan kombinasi warna biru tua, hijau, merah, dan kuning.  

Warna kuning adalah warna yang tak lupa disematkan dalam setiap tenunan. Kuning adalah juga warna baju yang ia pakai bekerja siang itu. Warna ini merupakan kesayangan Sang Raja, dan punya makna sendiri di hati penduduk Thailand. 

Maka, tak usah heran kalau di setiap sudut kota Bangkok ada banyak manusia yang dipenuhi dengan baju berwarna kuning. Di halte bis, stasiun kereta skyway, atau subway. Warna kebesaran, kata mereka.  

Duduk di kursi tenunnya, wajah Saenjay memancarkan keletihan. Maklum, ibu dua anak ini hendak menuntaskan pekerjaan yang tertunda sejak kemarin. Biasanya setiap petang ia menghasilkan kain dengan panjang 185 centimeter. Untuk itu, enam jam dalam sehari dihabiskannya di depan alat tenun.  

Kain yang dihasilkan bermacam-macam. Ada bahan untuk jenis kain panjang yang biasa dikenakan perempuan Thai (Madmi Pha Khao Ma), selimut, pakaian adat (Pha Thung), dan tas. Tradisi tenunan khas sudah tersohor sejak zaman orang-orang Chiang Saen bermigrasi dari Utara Thailand ke wilayah ini ratusan tahun silam.  

Sekitar sepuluh tahun Saenjay bergabung bersama perempuan sedesanya di koperasi penenunan. Mereka melanjutkan tradisi desa yang mempertahankan ekonomi dari pemintalan dan pertanian. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang suaminya mencari nafkah dengan bertani atau menambak ikan.

Di sebuah rumah kecil mereka memusatkan pekerjaan itu. Rumah itu dibagi dalam tiga ruangan, dengan dua ruangan dijadikan ”pabrik” penenunan. 

Ada 12 alat tenun yang disusun di ruang berukuran 6 x 4 meter. Ruangan setengah beton itu digunakan sebagai tempat produksi. Di sebelahnya ada ruangan yang ditata mirip galeri atau boutique.

Di sini ada kursi dan meja untuk menerima tamu atau pembeli, dan dua buah lemari kaca yang memamerkan hasil-hasil tenunan mereka. Sederhana, namun cukup menarik untuk menjadi tempat pemasaran. 

Tadinya saya bekerja membantu suami bertani,” katanya. Saenjay berbicara dalam bahasa Thai.

Direktur Pendidikan Lingkungan dan Pusat Pengembangan SDM Thailand Environment Institute (TEI) Dr Ampai Harakunarak menerjermahkannya untuk kami.  

Sejak bergabung dengan koperasi mandiri, menurut Saenjay, penghasilannya sebagai penenun amat membantu ekonomi keluarga.

Awalnya, Ia diwajibkan menyetor modal pertama ke koperasi.   Setoran itu digunakan untuk membeli benang dan keperluan menenun lainnya. Saenjay dan kawan-kawan mengambil bagian 20 persen dari total penjualan.

”Biasanya terjual 10-15 helai setiap hari. Ini belum termasuk pembeli partai besar yang menjual kembali kain tenunan kami di pusat-pusat perbelanjaan di Bangkok,” katanya.    

Harga sehelai kain tenun panjang berkisar 500-1000 Bath atau Rp150.000-Rp300.000. Dari penjualan itu sebanyak 20 persen dibagikan secara merata kepada 12 penenun. ”Saya bisa membawa 100 Bath ke rumah setiap hari,” ujar Saenjay.

Pendapatan yang setara Rp 30.000 itu dimanfaatkannya untuk membeli keperluan sehari-hari. Saenjay menabung sekitar 40 Bath atau Rp12.000. Sebagai anggota koperasi, koceknya juga bertambah melalui pembagian keuntungan akhir tahun.  

Demi melanggengkan koperasi, para penenun ditargetkan menghasilkan sedikitnya tiga kain panjang setiap pekan. Koperasi juga memberikan pinjaman tanpa bunga. Sistem pencicilan hutang diperbolehkan dengan memotong fee yang menjadi hak mereka dari setiap helai kain yang dihasilkan.  

”Koperasi menjadi tradisi sejak zaman raja-raja dulu. Masyarakat di Sao Hai melestarikannya untuk menopang kelangsungan ekonomi masyarakat. Ini yang dinamai Sufficiency Economy. Prinsip hidup yang dititahkan sejak Raja Rama I untuk menyejahterakan rakyat Thailand.

Intinya mempertahankan tradisi pekerjaan seperti bertenun, bertani, nelayan, atau berdagang, sembari mengelola keuangan secara berkelompok,” ungkap Dr Ampai. 

Dalam prinsip ekonomi itu diajarkan membentuk kelompok kecil untuk saling membantu dalam keuangan mereka.

Hidup sederhana ditanamkan dan tidak mengonsumsi barang-barang yang bukan menjadi kebutuhan utama. ”Ajaran itu mereka pertahankan sampai saat ini,” tutur Dr Ampai mengutip prinsip hidup komunitas etnik Thai Yuan.  

Menurut Dr Ampai, prinsip Sufficiency Economy itu digaungkan kembali oleh Raja Bhumipol Adulyadej tatkala krisis ekonomi melanda sebagian Asia pada 1998-2000 silam. Thailand cepat keluar dari belitan krisis dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip Sufficiency Economy dalam kehidupan sehari-hari.  

Sufficiency Economy adalah hidup berkecukupan. Ajaran ini merupakan prinsip dasar yang diturunkan kepada rakyat. Ia mulai diterapkan dari level keluarga, komunitas, dan selanjutnya dikembangkan ke dalam sistem administrasi dan pembangunan nasional untuk mempertahankan diri dari arus globalisasi dan modernisasi.  

Ada tiga nilai utama dalam prinsip itu yakni gaya hidup yang tidak berlebihan (moderation), sikap yang wajar (reasonableness), dan kekebalan diri untuk menghadapi perubahan dari dalam dan luar.   

Prinsip tradisionil itu terlestarikan lantaran masyarakat Thailand amat memuja raja dan segala ajarannya. Di wilayah pedesaan, mereka hidup sederhana sembari berdampingan dengan alam.

Di perkotaan, masyarakat yang terbiasa modern menjalankannya dengan mengekang gaya hidup yang mewah dan konsumtif.  Kehidupan masyarakat di Sao Hai District tampak tenang dan menjaga orisinalitas alam. Sungai Pasak yang membelah Sao Hai begitu bersih. Sungai itu diyakini masyarakat sebagai penjaga mereka dari kemurkaan alam.

Tak ada kotoran sampah yang menggenang ketika kami diajak melihatnya. Tradisi menjaga kesucian sungai itu kian tertanam di tengah penghormatan yang tinggi pada beberapa kuil peninggalan Raja Rama IV di tepi Sungai Pasak. 

Rumah-rumah dibiarkan asri dengan pepohonan rimbun di pekarangan mereka. Mayoritas penduduk masih mempertahankan rumah adat Thai Yuan yang menggunakan tangga dan tiang-tiang penyangga.

Komunitas setempat juga menjauhkan diri dari kemewahan.  

”Itu inti prinsip Sufficient Economy yang diajarkan raja-raja sejak zaman dulu. Hidup sederhana dan menjaga keseimbangan dengan alam. Asal tahu saja, di sini sangat jarang penduduk yang menggunakan telepon seluler. Saya sendiri suka kesulitan berkomunikasi dengan mereka,” kata Dr Ampai mencontohkan.  

Amnuay Saenjay adalah satu dari sekitar 200o-an penduduk yang menetap turun-menurun di Sao Hai. Ia melanjutkan keterampilan menenun yang diajarkan orangtuanya. Dari situ pula Saenjay menambah penghasilan keluarga.

Departemen Industri dan Promosi Thailand sempat membuatkan program singkat untuk komunitas etnik Thai Yuan. Mereka diajarkan membuat desain dan diperkenalkan dengan beragam bahan tenunan. Namun pemerintah tidak mengurusi terlampau jauh. Masyarakat berjalan dengan kemandirian mereka sebagai komunitas senasib.  

Saenjay membesarkan dua anaknya dengan pendapatan dari menenun, disamping penghasilan suaminya yang bertani. Koperasi mengembangkan industri tenunan mereka dengan membeli bahan-bahan yang bagus dan halus. ”Saya awalnya cuma membantu suami. Tapi akhirnya punya penghasilan sendiri,” tandas Saenjay.    

Ia mengakui tak punya rencana besar ke depan selain menyekolahkan anak-anaknya ke Bangkok. ”Saya ingin anak saya bekerja di kota besar,” kata Saenjay kepada Dr Ampai yang menyampaikannya kepada kami.  

Ingatan saya menerawang pada nasib penenun ulos di Taput, Tobasa, dan Samosir. Di bawah celah sinar matahari petang yang mengintip di balik jendela kecil, wanita tua itu meneruskan tenunannya yang hampir tuntas.

Ia punya mimpi dibalik wajahnya yang letih. (**)   


Posted in Features

1 Komentar »

  1. Selalu saja punya alasan untuk bawa-bawa Samosir. dalam setiap tulisan. okeylah yang cinta kampung halaman. cerita filosofi dah kubaca, kutunggu cerita-cerita nyelenehnyaa pas di sana. gak ada, gpp kok gak digugat.

    Komentar oleh diana — 12-04-2008 @ 1:40 pm


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Pada 1999 sempat meminati fotografi jurnalistik. Ikut kursus fotografi dasar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (angkatan V) di bawah asuhan kurator Yudhi Soeryoatmodjo dan Hermanus E. Priyatna (kini redaktur foto Antara). Selama beberapa waktu magang sebagai stringer di Biro Foto Antara dan bekerja sebagai editor foto untuk sebuah proyek buku di Biro Foto Indopix Jakarta bersama Tantyo Bangun (mantan wartawan Matra/kini Pimred ''National Geografic'' edisi Indonesia). Pada Desember 2001 menyelesaikan studi di jurusan Kriminologi Fisip UI, pindah ke Batam, dan menetapkan hati berkarir sebagai wartawan tulis. Kini, bekerja sebagai wartawan di Harian Sumut Pos sejak September 2006, setelah dari 2002-2006 bertugas di Batam Pos, koran daerah yang juga tergabung dalam Jawa Pos News Networking (JPNN). Saat ini sedang menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed