valdesz djoenianto

We are committed to supporting REDD: Woolas | Des 12th 2007

The UK is sticking by its plan to support the preservation of forests through its program for Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) in Indonesia. The support is part of the country’s commitment to reducing CO2 emissions by as much as 12.5 percent below 1990 emissions by the year 2012.

“We re in a situation to accept joint responsibility. We also realize the economic difficulty faced by developing countries that are the owners of the biggest forests in this earth,” stated Phil Woolas, the UK’s Climate Change Minister, in a briefing to Climate Change Media Fellows at the EU Pavilion on Tuesday (11/12).

PEMERINTAH Inggris tetap berkomitmen mendukung rencana pengajuan kompensasi bagi Indonesia dalam menjaga dan mencegah kerusakan hutan melalui program Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD).

Bantuan itu merupakan bagian dari komitmen negara itu dalam mengurangi emisi CO2 hingga 12,5 persen dari jumlah emisi pada 1990 hingga 2012.

“Kami ada pada situasi menyadari tanggung jawab bersama. Kami juga menyadari kesulitan ekonomi di negara-negara berkembang yang menjadi pemilik hutan terbesar di bumi ini,” ujar Menteri Perubahan Iklim Inggris Phil Woolas di EU Pavillion kepada wartawan yang tergabung dalam Earth Journalism Network di Hotel Nusa Dua Beach Bali, Selasa (11/12).

Menyinggung pendanaan mitigasi dan adaptasi di sektor kehutanan, Woolas mengatakan, penyediaan dana untuk kedua isu utama dalam REDD itu masih dicarikan terobosannya. Woolas belum menyebut secara pasti anggaran yang dikucurkan Inggris untuk REDD di Indonesia.

REDD adalah mekanisme pemberian insentif dana dari negara industri terhadap negara berkembang pemilik hutan. Skema REDD menawarkan insentif kepada pelaku bisnis di negara yang termasuk Annex 1 untuk membiayai pengurangan laju deforestasi untuk menyerap karbon.

Pilot activities ini didukung oleh Bank Dunia, Inggris, Australia, dan Jerman. Total sumbangannya berkisar 1,4 juta dollar AS.

Kendati Woolas belum bicara angka, namun Departemen Lingkungan Hidup Inggris menyebut adanya donasi sekitar 500.000 dollar Amerika dari total 1,4 juta dollar AS bagi pilot activities REDD.

Menurut Woolas, pasar karbon yang kini muncul juga menyediakan peluang yang lebih luas bagi negara-negara berkembang untuk merawat hutan mereka.

“Kami juga memikirkan peluang memasarkan karbon dengan Indonesia. Kita bisa melihat ini sebagai kesempatan besar. Jika Indonesia dibayar dalam upayanya menjaga hutan, maka setiap pihak juga diuntungkan,” tambahnya.

Woolas meyakinkan sektor yang terpukul akibat perubahan iklim adalah pertanian. Di negara-negara berkembang, dampaknya akan memperluas kemiskinan.

Ia juga mengatakan Inggris telah berkomitmen mengurangi emisi karbon hingga 12,5 persen dari jumlah emisi pada 1990 hingga 2012.

“Demikian juga negara-negara Eropa lainnya. Itu bisa tercapai salah satunya dengan transfer teknologi,” jelasnya.

Di bagian lain, Indonesia siap melaksanakan program pilot activities untuk menguji berbagai aspek REDD.

Tim dari Indonesia Forest Climate Alliance (IFCA) itu melakukan studi menguji sejauh mana kelayakan REDD di Indonesia.

(valdeszdjoenianto/published on www.mediacop13.spipmedia.net)


Belum Ada Tanggapan »

Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Pada 1999 sempat meminati fotografi jurnalistik. Ikut kursus fotografi dasar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (angkatan V) di bawah asuhan kurator Yudhi Soeryoatmodjo dan Hermanus E. Priyatna (kini redaktur foto Antara). Selama beberapa waktu magang sebagai stringer di Biro Foto Antara dan bekerja sebagai editor foto untuk sebuah proyek buku di Biro Foto Indopix Jakarta bersama Tantyo Bangun (mantan wartawan Matra/kini Pimred ''National Geografic'' edisi Indonesia). Pada Desember 2001 menyelesaikan studi di jurusan Kriminologi Fisip UI, pindah ke Batam, dan menetapkan hati berkarir sebagai wartawan tulis. Kini, bekerja sebagai wartawan di Harian Sumut Pos sejak September 2006, setelah dari 2002-2006 bertugas di Batam Pos, koran daerah yang juga tergabung dalam Jawa Pos News Networking (JPNN). Saat ini sedang menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed