valdesz djoenianto

Green evolution | Des 13th 2007

Against the background of REDD, Sustainable Development Forest (SDF) incentives, which may be realised by technology transfer, are proving to be opportunities for F-11 countries. Over the last two days, F-11 countries have had intensive discussions on budget compilation. Singapore has voiced its commitment to saving forests. It has stated its intention to save 220,000 sq km of forest land in Brunei, Indonesia and Malaysia, under their Borneo Project.

KOMPENSASI untuk pengelolaan hutan lestari (sustainable development forest/SDF) harus dijadikan negara-negara kelompok F-11 dalam skenario REDD.

Dalam dua hari ini, F-11 menggelar pembahasan intensif untuk menyusun skema anggaran yang dikucurkan oleh negara-negara industri maju melalui proyek SDF.

”Ada dua paragraf lagi yang akan didialogkan dengan AS, dan kita optimistis tercapai,” ujar Menteri Kehutanan, Malem Sambat Kaban, kepada wartawan di BICC Hotel Westin, Rabu (12/12).

F-11 merupakan kelompok negara para pemilik hutan hujan tropis (tropical- rainforest) yaitu Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Brazil, Peru, Republik Demokratik Kongo, Kamerun, Republik Kongo, Gabon, Kostarika, dan Kolumbia.

Kelompok ini yakin kebakaran dan pembabatan hutan hanya menyumbang 25 persen dari seluruh emisi yang mempercepat proses perubahan iklim.

”SDF ini bagian dari insentif REDD yang ditujukan pada manajemen fungsi hutan. Jadi nantinya SDF tidak cuma terfokus pada masalah perkayuan, tapi juga non-perkayuan,” ujar Kaban.

Dalam konferensi pers itu turut hadir Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dan Menteri Lingkungan Hidup, yang juga Presiden Konferensi Perubahan Iklim Bali, Rahmat Witoelar.

”Kelompok F-11 terus mendorong negara-negara maju tetap komitmen dengan skema REDD yang disepakati di Protokol Kyoto. REDD itu tidak hanya berbentuk dana, melainkan juga berujud teknologi. Tapi F-11 juga sudah punya kalkulasi,” ujar Kaban.

Hutan hujan tropis memainkan peran penting dalam mempertahankan konservasi lingkungan. Ada sekitar 6-7 persen dari total permukaan bumi.

Data FAO (2005) mencatat komposisi hutan hujan tropis mencapai 16 persen dari total permukaan bumi. Kelompok F-11 juga meyakinkan hutan hujan tropis yang menyumbang 50 hingga 90 persen dari keanekaragaman hayati dunia.

Kaban menambahkan lahan gambut juga sedang diakomodir dalam skema REDD.

”Jika itu tercapai, maka Indonesia diwajibkan menghindari pemanfaatan kawasan hutan yang memiliki lahan gambut dalam,” katanya.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda berharap SDF menjadi langkah awal pelaksanaan skema REDD di Bali Roadmap.

”Memang itu belum. tapi prosesnya masih berlangsung dalam beberapa hari ini. Kita berharap SFD merupakan bagian solusi yang ditawarkan di Bali Roadmap,” ujar Wirajuda.

Pemerintah Singapura juga berjanji mendukung proyek perlindungan hutan Indonesia. Perdana Menteri Lee Hsien Loong menyatakan itu di depan pembukaan pertemuan tingkat tinggi (high level) Konferensi Perubahan Iklim di BICC Hotel Westin, Rabu (12/12).

”Singapura akan ikut mendorong program REDD yang disampaikan Indonesia. Kami berencana menyusun ‘Proyek Borneo’ yang bertujuan menyelamatkan areal hutan seluas 220.000 kilometer persegi di Brunei, Indonesia, Malaysia,” kata Lee.

Lee juga berjanji membangun kerjasama bilateral dengan Indonesia untuk menangani kebakaran lahan gambut, serta merehabilitasi lahan kering dengan program pembangunan berkelanjutan.

Singapura merupakan salah satu negara yang harus bertanggungjawab atas perubahan iklim bumi lewat sejumlah megaproyek reklamasi.

Selama lebih kurang 20 tahun, Singapura sebagai konsumen pasir laut Indonesia telah menggunakannya sebagai bahan dasar konstruksi bangunan gedung-gedung pencakar langit, reklamasi pantai, dan perluasan kawasan Bandara Internasional Changi serta kawasan Industri sekitarnya.

Jika pada 1960 luas seluruh daratan Singapura mencapai 581,5 kilometer persegi. Luas itu kemudian meningkat menjadi 650 kilometer persegi.

Sejumlah pakar memperkirakan perluasan itu akan bertambah lagi sekitar 100 kilometer persegi pada 2030.

Sejak 1997, Malaysia menghentikan ekspor pasir dan Singapura hanya mengandalkan pasir laut dari Indonesia hingga 2003.

(valdeszdjoenianto/published on www.mediacop13/spipmedia.net)


Belum Ada Tanggapan »

Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Pada 1999 sempat meminati fotografi jurnalistik. Ikut kursus fotografi dasar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (angkatan V) di bawah asuhan kurator Yudhi Soeryoatmodjo dan Hermanus E. Priyatna (kini redaktur foto Antara). Selama beberapa waktu magang sebagai stringer di Biro Foto Antara dan bekerja sebagai editor foto untuk sebuah proyek buku di Biro Foto Indopix Jakarta bersama Tantyo Bangun (mantan wartawan Matra/kini Pimred ''National Geografic'' edisi Indonesia). Pada Desember 2001 menyelesaikan studi di jurusan Kriminologi Fisip UI, pindah ke Batam, dan menetapkan hati berkarir sebagai wartawan tulis. Kini, bekerja sebagai wartawan di Harian Sumut Pos sejak September 2006, setelah dari 2002-2006 bertugas di Batam Pos, koran daerah yang juga tergabung dalam Jawa Pos News Networking (JPNN). Saat ini sedang menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed