valdesz djoenianto

Benazir, Hillary & Air Mata | 12-04-2008

Dua perempuan menjadi pembicaraan dunia dalam sebulan ini. ”Saya bertemu Bhutto pada akhir 1990. Saya mewawancarainya selama dua jam di Hotel Manila Peninsula. Saya mendapat telepon darinya dan dia ingin sekali saya wawancarai,” ungkap Tony Lopez, wartawan senior The Manila Times.

”SAYA menyaksikan mata yang berkaca-kaca. Ia bercerita persoalan pelik yang membelenggu negerinya, tudingan korupsi atas keluarganya, dan teror yang membuatnya menyingkir sementara waktu dari negeri tercintanya,” ujar Lopez (The Manila Times, 7/1/2008).

Sayang, wawancara Lopez itu tak dimuat oleh Asiaweek, media tempatnya bekerja saat itu.

”Artikel wawancara saya dicekal oleh seorang editor yang kebetulan warga negara Pakistan,” kata Lopez sedih. Empat tahun berselang dia bertemu Hillary Clinton pada jamuan kenegaraan di Istana Malacanang.

”Saya melihatnya sebagai sosok perempuan yang berotot.”

Benazir dan Hillary adalah dua perempuan yang mirip satu sama lain. High-educated dan punya keinginan kuat untuk melepaskan diri dari bayang-bayang pendahulu mereka. Benazir dari sang ayah, Zia Ul-Haq, sementara Hillary dari suaminya, Bill.

”Demokrasi dan persamaan hak adalah cita-cita mulia yang diusung keduanya. Saya mengagumi mereka,” ujar Lopez. Begitupun dia sempat menyikut Hillarry dengan komentar halus: ”She will do anything to get things she wants and to get where she wants to”. Hillary dan Benazir memang perempuan ambisius.

Lihatlah, Hillary mengakui butiran air mata amat memengaruhi kemenangannya atas Barrack Obama di pemilihan internal (primary) Partai Demokrat di New Hampshire.

Ini merupakan perubahan penampilan Hillary di depan publik selepas kekalahannya dalam primary di Kaukus Iowa, pekan silam. Ia mencoba mengeksplorasi sisi ”keperempuanan” yang mustahil dipunyai Obama.

”Memang, saya ingin membebaskan pikiran kita semua bahwa biarlah perempuan tampil menjadi manusia biasa biarpun ia berada di ruang publik,” kata Hillary kepada Fox News seperti dikutip The Examiner (10/1/2008). Itu artinya Hillary mengamini air mata sebagai bagian dari seorang perempuan- sekuat dan sekeras apa pun hatinya.

Kolumnis Harian terkemuka The Australian Pamela Tarr justru tidak melihat sisi ”keperempuanan” Benazir yang menyebabkannya terbunuh. ”Tapi yang jelas bukan karena dia seorang santa atau perempuan suci. Jelas itu bukan,” tulis Pamela (The Australian, 2/1/2008).

Benazir juga digambarkan tidak berbuat terlalu banyak bagi perempuan Pakistan selama dua periode kepemimpinannya terdahulu. Ia dibunuh lantaran dianggap simbol kebebasan pemikiran dan kemerdekaan berpendapat. Jauh dari kecurigaan gender yang merebak di kalangan prodemokrasi.

So, Benazir bukan dihabisi hanya gara-gara ia seorang perempuan yang terlalu maju untuk model negara Islam. Justru pemikiran Benazir yang amat dicemaskan kaum konservatif, khususnya kelompok jihaddist.

Pamela menggambarkan,”Bhutto dibunuh karena di mata lawan-lawannya dia adalah simbol kebarat-baratan. Ia gencar membawa sekularisme dan demokrasi ke Pakistan. Dia dihabisi lantaran di tubuhnya mengalir seluruh hal yang tidak disukai masyarakat konservatif, dan dia kebetulan adalah seorang perempuan.”

Atas ketidaksukaan itu sebetulnya Benazir sudah merasakan semenjak awal. ”Saya tahu saya adalah simbol oleh apa yang disebut oleh kaum jihaddist Taliban dan Al-Qaida itu sebagai sosok yang menakutkan,” ucapnya dalam otobiografinya bertajuk Daughter of the East.

‘’Saya adalah perempuan pemimpin politik yang mencerahkan Pakistan dengan modernitas, komunikasi, pendidikan, dan teknologi. Jadi di mata mereka saya adalah perempuan menakutkan.”

Ya, ‘’ketakutan” adalah pilihan kata yang tepat untuk Benazir. Ketakutan akan hadirnya seorang perempuan yang memimpin negara Islam, atau inspirasi bagi terciptanya kemerdekaan perempuan dalam banyak hal.

Mampukah insiden kematian Benazir membangkitkan kesadaran bahwa ”musuh” sesungguhnya masih berkeliaran di sekitar kita?

Barat memang tak selalu benar. Mereka banyak menyokong pemerintahan korup di banyak tempat. Gaya modernisasi yang mereka perkenalkan juga terbukti menjerumuskan masyarakat tradisionil dalam budaya konsumerisme yang ”membunuh” diri sendiri.

Namun, ada banyak hal yang mereka perjuangkan sebagai arus utama kemanusiaan. Benazir- sang perempuan Timur yang dibekali di Radcliffe dan Oxford (Inggris) itu- adalah simbol demokrasi, sedangkan Hillary yang bersekolah di Yale (AS) tampil sebagai ikon anti-peperangan.

Itu yang coba diingatkan Pamela, ”Bagaimanapun Barat punya kepekaan akan hak-hak asasi manusia, penegakan aturan hukum, persamaan hak, dan setiap kebebasan yang memang semestinya kita peroleh sebagai mahluk Tuhan.”

Benazir dan Hillary menginspirasi demokrasi di seluruh dunia dengan cara mereka. **

(dimuat di kolom CERMIN Harian Sumut Pos edisi Minggu 14 Januari 2008)


Ditulis dalam Cermin, Politik

Belum Ada Tanggapan »

Ada yang ingin disampaikan? RSS Komentar URI Lacak Balik

Tentang penulis

Pada 1999 sempat meminati fotografi jurnalistik. Ikut kursus fotografi dasar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (angkatan V) di bawah asuhan kurator Yudhi Soeryoatmodjo dan Hermanus E. Priyatna (kini redaktur foto Antara). Selama beberapa waktu magang sebagai stringer di Biro Foto Antara dan bekerja sebagai editor foto untuk sebuah proyek buku di Biro Foto Indopix Jakarta bersama Tantyo Bangun (mantan wartawan Matra/kini Pimred ''National Geografic'' edisi Indonesia). Pada Desember 2001 menyelesaikan studi di jurusan Kriminologi Fisip UI, pindah ke Batam, dan menetapkan hati berkarir sebagai wartawan tulis. Kini, bekerja sebagai wartawan di Harian Sumut Pos sejak September 2006, setelah dari 2002-2006 bertugas di Batam Pos, koran daerah yang juga tergabung dalam Jawa Pos News Networking (JPNN). Saat ini sedang menyelesaikan studi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

Cari

Navigasi

Kategori:

Tautan:

Arsip:

Feed