MAHATHIR Mohammad mengawali 2008 dengan sebuah pesan: ”Jangan sesekali berhenti berpikir untuk negaramu”. Ia menuntaskan memoarnya pekan silam.
BUKU itu juga diprediksi sebagian kalangan sebagai thriller tahun ini. Mahathir adalah sosok yang kontroversial. Tengoklah, sehari selepasnya, dia yang pernah lama memegang tampuk pimpinan UMNO, partai paling berkuasa di Malaysia, harus memberikan kesaksian 90 menit di pengadilan. Ia dituduh KKN.
Saat itu sekitar Desember 2001, sebuah klip menunjukkan rekaman percakapan tentang pengaturan pemilihan hakim. Di klip itu, seorang pengacara bernama V.K Lingam- yang belakangan menjadi penasihat hukum Mahathir- terlihat berbincang dengan seseorang melalui sambungan seluler.
Di samping kiri Lingam duduk Ahmad Fairuz Shaikh Abdul Halim, yang pada 2001 terpilih menjadi hakim nomor tiga di Malaysia. Arah percakapan adalah bagaimana ”mengolah” Ahmad Fairuz menjadi salah satu hakim agung terpilih.
Kawan bicara Lingam itulah yang diduga kuat sebagai Mahathir. Di bagian rekaman juga tampak konglomerat Vincent Tan dan staf deputi Mahathir bernama Tengku Adnan Mansor. Keduanya mendukung Ahmad Fairuz.
”Hati-hati dengan dinding”. Adagium klasik yang bagus menggambarkan nasib sang pemimpin paling lama di negeri jiran itu. Semuanya berawal dari rekaman yang dibocorkan oleh ”pasukan bawah tanah” Anwar pada September 2007. Anwar memang tercatat lawan politik Mahathir pada tahun-tahun terakhir masa kekuasaannya.
Dan, Mahathir, yang populer dengan sebutan Dr M itu ternyata masih kharismatis meskipun tanpa kekuasaan dan jabatan politik. Ia tampak segar meskipun menjalani sidang pengadilan di usianya yang senja: 84 tahun. Sekali lagi, itu terjadi sehari setelah putranya mengumumkan rencana peluncuran memoarnya.
Mukhriz Mahathir bercerita buku itu mengisahkan pengalaman politik dan pribadi ayahnya selama memimpin Malaysia.
”Isinya lebih pada perenungan. Sebuah refleksi bagaimana memajukan setiap warga negara, tanpa mengurangi perhatiannya pada masyarakat pribumi,” ujar Mukhriz (The Gulf, 17/1). Dr M memang dikenal cinta pribumi. Ia berbuat apa saja untuk memajukan pengusaha dari kalangan bumiputera.
Syamsul Hadi (2006) menuangkan riset disertasinya soal perbandingan pemanfaatan modal Jepang di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian yang kemudian dibukukan itu mencatat Malaysia memanfaatkan 45 persen pinjaman Jepang ke sektor riil pribumi, sedangkan Indonesia di bawah Soeharto hanya mendistribusikan 18,5 persen.
Mahathir berpikir soal memajukan pengusaha yang sulit memperoleh pinjaman dari bank-bank internasional. Soeharto mengoptimalkannya untuk megaproyek industri. Ia tak mau ambil pusing siapa yang mengerjakannya.
Bagi Soeharto, seperti digambarkan Syamsul, modal Jepang amat strategis untuk diputar sekencang mungkin. Pilihannya adalah industri baja dan perakitan otomotif. Jepang butuh mitra di Asia Tenggara, dan itu artinya sejumlah megaproyek ini harus diserahkan secepatnya kepada pengusaha yang berpengalaman. Siapa mereka tak jadi soal.
Namun, di sinilah keunggulan strategis Dr M. The Gulf menulis, ”He oversaw Malaysia’s transformation from a producer of primary commodities into a wealthy industrialised nation when he left the prime minister’s office.” Ia sukses menggagas isu politik, ekonomi, dan mengemasnya dengan perasaan nasionalisme.
Sebutlah: ”A New Deal for Asia”, dan ”Globalisation and the New Realities”.
Ia menekan Singapura melalui ”politik air ketat”. Singapura boleh membeli air tapi dilarang keras menjual kembali untuk kapal-kapal yang singgah di pelabuhan mereka. Ia merintis Tanjung Pelepas untuk mengimbangi Singapura.
Dr M juga mengizinkan Genting Highland meskipun ia dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Ia membangun University Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengimbangi popularitas Nanyang di Singapura. Ia juga menyulap kawasan bukit Putra Jaya menjadi cyber city pertama di Asia.
Malaysia juga cepat terlepas dari belitan krisis yang mencengkram ”macan” baru di Asia Tenggara, termasuk Singapura, Thailand, dan Indonesia.
Ia memimpin Malaysia seperti layaknya memahami dunia kedokteran. Negara itu ditata layaknya organ-organ yang berjalan sesuai fungsinya. Namun, Dr M memang tak muda lagi. Ia sudah dihantam dua kali serangan jantung. Terakhir sekitar September 2006 silam. Tapi penyakit itu tak kambuh di sidang pengadilan.
Dr M juga punya lawan politik yang dia hantam habis. Ia juga disangkakan KKN di ujung usianya. Namun, The Gulf menulis, ”He feels he wants to say some more.” Rakyat Malaysia begitu menantikan memoarnya. The Gulf menempatkan tulisan itu di halaman pertama bersamaan dengan sebuah artikel yang disadur dari CNN: ”Soeharto’s health improves slightly”. *
(diterbitkan di kolom CERMIN, Harian Sumut Pos edisi 20 Januari 2008)









