Post

Good Bye, Smiling General !

In Cermin, Politik on 12-04-2008 oleh valdesz djoenianto

Soeharto tak pernah menunjukkan kemarahan. Ia juga sulit menunjukkan kesedihannya, bahkan di atas pemakaman istri tercintanya.

SOEHARTO juga berjalan tenang saat meletakkan jabatan presiden pada Mei 1998. Ia tidak pernah menyingkap emosinya yang paling dalam di mana pun. Ia adalah pemimpin rezim militer yang justru dikenang dari senyumannya. Good bye, Smiling General !

DIA memiliki perbedaan yang menyolok dengan pendahulunya, Soekarno, sang presiden pertama yang dikenal ektrovert. Suharto memancarkan ketenangan dan wajahnya menyimpan sesuatu yang misterius.Dia merahasiakan kehidupan pribadinya, menjaga jarak dari orang asing, dan nyaris tidak pernah memberikan wawancara. Soeharto hanya menyapa publik melalui pidatonya yang ‘’super-hemat” di TVRI.

”Isi pidatonya sangat monoton, dan itu disampaikan seperti bergumam dengan gaya seorang pegawai negeri rendahan,” tulis Jonathan Head dalam artikelnya bertajuk ”The lasting Legacy of Soeharto” di situs BBC News Bangkok (27/1/2008).

Jonathan menulis artikelnya enam jam sebelum Soeharto mangkat. Media di Indonesia mencatat penguasa Orde Baru itu menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 13.10 WIB.

Soeharto sedikit berbeda dengan rezim militer di banyak negara. Ia bukan tergolong pemimpin narcis dalam konteks memuja diri sendiri. Kita tak pernah mendengar Soeharto membangun patung dirinya sendiri, tak ada taman atau jalan yang dinamai seperti namanya. Ia justru lebih gemar menggunakan papan reklame.

Media luar ruang itu memuat foto dirinya dalam ukuran ‘wah’ yang dibarengi dengan jargon-jargon pembangunan. Begitupun pada tahun-tahun terakhir kekuasaannya, wajah Soeharto muncul di atas uang kertas satuan paling besar di Indonesia.

Ia merasa harus menggunakan tindakan-tindakan simbolik.

Teori spin doctors, yang lazim digunakan dalam literatur komunikasi massa, menyebutkan cara itu sebagai gaya simbolik yang mampu menyuntik kesadaran masyarakat.

Soeharto adalah pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang amat khas. Ia tak terlalu suka memakai militer secara langsung, kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Dia lebih suka metode yang tak langsung untuk melumpuhkan lawannya, tetapi disiapkan di waktu yang tepat dan matang.

Jonathan menulis, ”Kita mencatat bahwa pertumpahan darah adalah ikon sejarah yang menemani kenaikannya sebagai presiden sesudah percobaan kup misterius pada 1965. Indonesia lalu menyebut PKI sebagai dalang dibaliknya.”

Jonathan membandingkan naiknya Soeharto ke tahta kekuasaan mirip dengan rezim Khmer Merah di Kamboja.

Tragedi G30S terus menggores di hati rakyat Indonesia sampai hari ini. Selama 32 tahun sebutan PKI atau keturunan PKI masih menghantui sebagian besar masyarakat.

Hantu kebangkitan kembali komunis terbiasa didengungkan untuk menghancurkan mereka yang membangkang.

Ia memperkuat rezimnya dengan menebar intelijen untuk memata-matai gerakan bawah tanah rakyat atau kelompok intelektualis.

Bayangkan, sebutan: ”tidak bersih lingkungan” adalah momok paling menakutkan bagi rakyat, sekalipun PKI betul-betul ditumpas pascaperistiwa G30S.

Dalam periode pembersihan itu setidaknya 200.000 orang ditahan, separuh di antaranya tinggal di penjara selama lebih dari satu dasawarsa, dan kebanyakan tanpa pemeriksaan pengadilan. Mereka memasukkan beberapa seniman dan cendekiawan yang diketahui terbaik di Indonesia.

Indonesianis asal Prancis, Francois Raillon (2008) menyebutkan, kenangan cukup luar biasa dari seorang Soeharto adalah kemampuannya ”memainkan” ketakutan yang tersisa dari tragedi 1965. Itu terbukti cukup efektif meredam masyarakat kelas bawah.

Di lapisan kelas menengah, Soeharto membangun jejaring yang kecerdasannya mampu mencium ”gerakan bawah tanah”.

Gerakan-gerakan mahasiswa ditindas pada era 1970-an, sejumlah aktivis Islam dipenjarakan dalam skenario politik pada 1980-an, penerbitan media yang mengkritiknya dibekukan, dan yang paling tragis: toko-toko penyalur media independen dilumpuhkan pada pertengahan 1990-an.

Bayangkan, selama Orde Baru, sekitar dua juta orang dituduh sebagai anggota perkumpulan sayap yang punya hubungan langsung dan tidak langsung dengan PKI.

Maka, seperti diucapkan Raillon: ”Noda seperti itu bisa memalangi Anda dari pekerjaan pemerintah, atau tempat di universitas.”

Jangan bicara soal propaganda politik. Agen-agen yang dibina orde itu amat mahir meniupkan insiden yang memberi mereka dalih untuk menghancurkan suatu pergerakan yang dianggap membahayakan ’stabilitas’ NKRI.

Agen-agen itu juga punya kemampuan membujuk lawan agar tidak bertindak lebih jauh.

Pertumbuhan ekonomi
”Soeharto mempunyai kelicikan politik yang tak tersaingi, juga naluri yang jarang berbuat salah yang sukar ditandingi saingannya,” tulis BBC News Bangkok (27/1)

Soeharto punya model pemikiran sederhana yang terbentuk di masa kecilnya. Ia percaya masyarakat pedesaan yang miskin sebaiknya dilepaskan dari politik, dan terfokus untuk memperbaiki kesejahteraan mereka.

Ia amat menyukai sebutan ”Bapak Pembangunan”. Gaya pendekatannya konservatif: ”Negara butuh seorang bapak yang keras tetapi penuh kebaikan”.

Ia menikmati masa-masa saat dirinya membagikan nasehat dan bantuan kepada petani. Soeharto begitu terpesona dengan petani. Ia juga punya pengetahuan amat mendalam di bidang pertanian, khususnya padi dan peternakan sapi. Ia cuma tidak suka satu hal: kritik.

The Australian (20/1) melaporkan saat Soeharto mengambil alih ekonomi pada 1966, Indonesia mengalami inflasi yang tak terkontrol. Kemiskinan ada di mana-mana.

Selama tiga dasawarsa berselang, Soeharto mengemudikan Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi yang stabil (rata-rata 10-15 persen) per tahun, pembangunan infrastruktur lewat jembatan layang dan jalan tol, mekanisasi dan teknologi pertanian, industri baja dan manufaktur, dan tak ketinggalan eksploitasi pertambangan minyak dan gas bumi.

Dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya, Soeharto berhasil memulihkan kehidupan perekonomian sebagian masyarakat Indonesia.

Hanya, pertumbuhan ekonomi itu tak mengakomodir demokrasi. Soeharto membangun situasi politik menindas yang menahan pertumbuhan intelektual.

Ia menggunakan militer untuk menegakkan NKRI, sekaligus meredam perselisihan etnik dan agama di Indonesia- yang kemudian meledak setelah kejatuhannya.

Media-media asing bukannya tak paham AS berpura-pura tak tahu soal penindasan hak-hak asasi yang dilakukan Soeharto. Tapi periode itu memang bersamaan dengan ledakan minyak pertama (oil booming) yang menumpahkan kekayaan ke dalam pundi-pundi pemerintah.

Indonesia penghasil minyak dan gas bumi. AS dan negara-negara Eropa punya kepentingan megabisnis karena diserahi proyek eksplorasi di darat, gunung, dan lepas pantai.

Di masa itu pula pinjaman-pinjaman jangka panjang digulirkan, dan akhirnya memicu korupsi yang endemik di lingkungan paternalistik Suharto.

George Junus Aditjondro (1998) menulis: ”Soeharto gagal mengatasi kelemahannya. Ia membiarkan lingkaran luar memanfaatkan enam orang anaknya yang secara spektakuler kaya selama ledakan minyak dan industri pada era 1980-an dan 90-an”. Sebaliknya Soeharto sendiri dikabarkan hidup secara bersahaja.

Namun, Aditjondro kembali mengingatkan, ”Tetapi dia melingkungi dirinya sendiri dengan orang yang secara menyolok menyalahgunakan akses mereka kepadanya. Kroni-kroninya itu menjilat agar bisa lebih kaya lagi.” (Dari Soeharto ke Habibie: 1998)

Apakah Soeharto sosok pemimpin Asia yang luar biasa? Beribu-ribu korban pembersihan brutalnya pasti akan berkata tidak. Akan tetapi, kebanyakan orang Indonesia mungkin menyetujui sebagian masa kekuasaannya memiliki manfaat.

Soeharto menerima penghormatan luar biasa di berbagai daerah terpencil sebagai seorang pemimpin yang sudah menuntun Indonesia jauh dari kekacauan dan konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura.

Ia bersahabat erat dengan Mahathir dan Lee Kwan Yew. Coba, di zaman Soeharto, kapan kita bertengkar dengan Malaysia dan Singapura? **

(Artikel ini dimuat di Harian Sumut Pos edisi 28 januari 2008)

Tinggalkan Balasan