Saat berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, mata saya tiba-tiba menangkap ’sesuatu’ di counter penjualan majalah. Saya yang cuma numpang lewat langsung kepincut pada cover Majalah Time edisi April 2008. Tepian yang biasanya merah itu dibalut hijau
Ilustrasi kulit muka adaptasi cover film ”The Flags of Our Fathers”. Anda yang sudah menonton, tentunya ingat sekuel film besutan mantan aktor cowboy Clint Eastwood ini.
Salah satu pertempuran yang paling penting dan berdarah adalah pertempuran merebut Pulau Iwo Jima dari tangan Jepang.
Dari pertempuran ini ada yang sangat terkenal dan menjadi salah satu ikon perang dunia kedua yang dikenang sepanjang masa: lima marinir dan seorang tentara Amerika mengibarkan bendera Amerika di Mount Suribachi.
Adaptasi itu memang menarik. Tiang bendera ditukar pohon rindang berakar lebat. Di sana, lima orang berseragam tentara mencoba menegakkan pohon yang nyaris tumbang.
Gayanya persis foto di cover ”The Flags of Our Fathers”, yang kebetulan salah satu film favorit saya.
Untuk sekelas Time, pergantian warna kulit muka jelas memperlihatkan momen yang amat tidak biasa dalam agenda setting redaksi. Simbolitas pohon yang nyaris tumbang dan sepuhan hijau di pinggir kulit muka adalah ekspresi yang mendalam atas semakin merangasnya bumi.
Judul edisi itu pun diketik dalam font khas Time, lengkap dengan sebaris kalimat menggugah: ”Global Warming, Is it True?”
Dalam perjalanan pulang, seorang teman bertanya kepada saya, ”Apa penyebab krisis pangan akhir-akhir ini?” Wah! kompleks. Jawab saya, mungkin krisis yang terjadi akibat penularan krisis dari atas. Saya mengutip terminologi ekonomi. Istilah kerennya, contagion effect.
Apakah mahalnya bahan-bahan pangan di sini akibat contagion effect juga? Ya, boleh jadi. Indonesia punya seluruh persyaratan di dalamnya.
Aturan hukum yang lemah soal tata ruang, kebijakan agraria yang rentan dimanipulir oleh elite dalam lingkaran politik dan kekuasaan, ketiadaan data petani yang akurat, membengkaknya spekulan pupuk, dan keputusan pemerintah yang sembrono tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat yang terlahir dalam tradisi agraris.
***
Bagi kita, krisis pangan ibarat bola panas yang diperoleh di belakang hari. Mari becermin dari krisis pangan yang melanda sebagian Asia dan Afrika dalam dua bulan terakhir.
Dalam banyak hal, perubahan iklim di banyak negara adalah salah satu penyebab. Di Eropa, musim dingin yang berkepanjangan menyebabkan petani tak bisa menanam gandum. Di pasar dunia, harga minyak meroket hingga menembus 140 dollar AS per barel. Di sebagian Asia, petaninya kesulitan menanam padi akibat kemarau yang berkepanjangan.
Banyak juga pendapat yang menjelaskan soal pengalihan dari energi nabati berbahan baku pangan.
Sulit dibayangkan kedelai, singkong, kepala sawit, gandum, kedelai, bahkan tebu mulai digalakkan menjadi sumber energi alternatif menggantikan minyak bumi. Kita cuma gigit jari menonton bahan makanan itu digiling menjadi bahan baku industri.
Saya coba mengutip laporan SciDev.net. Setidaknya 20.000 keluarga petani di Bangladesh dan Maroko harus meletakkan alat-alat pertanian mereka akibat alam yang tak bersahabat.
Di sini, petani kita frustrasi melihat harga pupuk yang jauh lebih mahal dari penjualan gabah sekalipun. Saya bukan pengamat pertanian dalam konteks yang scientific, namun krisis pangan jelas isu terhangat di tingkat global belakangan ini.
Jika Anda menyimak halaman ini sepekan lalu (Sumut Pos, 22/4), sebuah foto yang dijepret juru foto AFP di Philipina memperlihatkan bagaimana tentara menjaga ketat gudang beras di Quezon City di Metro District.
Krisis pangan sudah masuk Asia Tenggara. World Bank dan IMF juga mengingatkannya di depan pertemuan kepala negara di Swiss. Dunia pun mengingatkan krisis pangan mampu memicu kejatuhan rezim di banyak negara.
Bicara pangan jelas bukan cuma ngomongin beras. Namun beras adalah yang terseksi. Ia menjadi komoditas yang begitu peka memicu tensi politik. Itu rumus universal, artinya tak cuma berlaku di negeri ini.
Izinkan sekali lagi saya mengutip laporan SciDev.net. Dalam peta perdagangan internasional, pasar beras dunia sejatinya amat kecil. Jumlah yang beredar tak sampai 6 persen dari total produksi dunia. Jelas lain dengan gandum atau jagung yang pasarnya lumayan besar.
Gandum, misalnya, diserakkan di pasar internasional hingga 15 persen dari total produksi dunia. Itu pun harganya diprediksi mencapai rekor tertinggi dalam 11 tahun terakhir. (Sunday Herald, 12/3)
Kita bisa bayangkan 3/4 penduduk dunia yang mengonsumsi beras sebagai makanan pokok ‘cakar-cakaran’ berebut persediaan yang jauh lebih tipis dari gandum. Ah, sebodoh amat.
Mari berpijak ke bumi. Kenyataannya, pemerintah daerah justru lebih tertarik menggalang investasi dengan menyulap areal pertanian. Mudah sekali membangun lapangan golf, ruko, mall, perkantoran, serta membuldozer sawah, yang katanya, demi pertumbuhan wilayah.
Kita pun patut sedih. Kini pemandangan hijau tinggal di brosur saja. Sawah yang permai habis dibangun dengan proyek-proyek fisik. Pemekaran yang melahirkan pemerintahan baru punya kecenderungan menghilangkan areal pertanian.
Maka tak perlu heran jika suatu saat kita berkunjung ke desa mendapati landskap yang sama seperti di kota. Tapi itu pun tak perlu cemas. Toh, seperti buaian lagu: ”Indonesia itu kaya-raya, gemah ripah loh jinawi”.
Kata orang luar: lahan ada, petani banyak, tenaga kerja berlimpah. Coba simak ucapan Wapres JK. “Dari analisa BPS, tahun lalu harga beras naik 4,8 persen. Kita beli bibit sampai Rp 1,5 triliun. Soal pangan kita nggak usah khawatir,” katanya.
Lho.. lho.. terus antrian beras dan kasus gizi buruk itu dari mana, Pak? So where gitu lho?
Saya jadi ingat kawan kuliah saya dulu. Sumpah! namanya Gemah Ripah Loh Jinawi. Tapi ya tetap saja nasib hidupnya sama kayak anak kos kebanyakan: tiap awal bulan bayar bon di warung.
Ya, mungkin edisi besok Time atau majalah terbitan luar negeri menyikut kita dengan ilustrasi cover tikus mati di lumbung padi. Begitupun tak usah khawatir. Kita di sini sudah capek dan resisten.
Lidah kita pun sanggup-sanggup saja bermigrasi dengan santai: dari makan beras yang gurih dan pulen tiba-tiba makan roti dan quacker, sejak sarapan hingga makan malam. *
(diterbitkan di Sumut Pos edisi satu Juni dua ribu delapan)
hai valdest.. aha kabarnya.. gw dapat alamat blog ini dari iqbal.. hehe seru juga baca blognya.. jurnalis abis.. pokoknya top..top..top… sesekali berkunjunglah ke blog dakuuu..hehe
Komentar oleh kayla-batam — 12-04-2008 @ 11:16 am
hehe.. bapak bisa aja.. saya tuh nulis yang ringan2 aja pak.. lagi hobby cerita cerita tentang anak… kapan nih main ke batam lagi.. gimana kabarnya disana.. semakin oke kan, dengar dengar valdesh udah jadi some one gitu lho.. btw..valdesh memang jago kok… hehe
Komentar oleh kayla-batam — 12-04-2008 @ 4:12 am
Salam kenal, selalu membangun kesadaran bersama untuk hidup bersama ke depan yang lebih baik
Komentar oleh Azas Tigor Nainggolan — 12-04-2008 @ 4:52 am
hidup pak valdesz
Komentar oleh riza fahlevi — 12-04-2008 @ 6:09 pm