Berkaca Pada Sungai Pasak
Kisah terakhir dari mereka yang sejati mempertahankan kelestarian alam adalah Kingkaew Takaew. Perempuan 50 tahun ini saksi hidup soal sejarah Sungai Pasak yang membelah tiga provinsi di Thailand.

Berkaca Pada Sungai Pasak
Kisah terakhir dari mereka yang sejati mempertahankan kelestarian alam adalah Kingkaew Takaew. Perempuan 50 tahun ini saksi hidup soal sejarah Sungai Pasak yang membelah tiga provinsi di Thailand.

AJARN Tongchai Wannakul mempertahankan rumah asli Thai Yuan. Rumah tradisi, yang dalam bahasa Thai dinamai Baan Khao Kaew itu, mungkin tinggal hitungan jari di Sao Hai. Sebuah perjalanan spritual melestarikan ”manuskrip” yang terancam punah.

Belajar dari Komunitas Etnik Thai Yuan
SAO HAI. Wilayah di Timur Laut Thailand ini menyimpan sejarah panjang tentang cara mempertahankan diri dari gempuran modernisasi. Komunitas yang bertahan tanpa perhatian yang berlebih dari pemerintah, dan tidak menyerahkan diri untuk didikte oleh pasar.
Sao Hai, Thailand

Dunia Harus Memulainya dari Sedikit Orang
CARL Linberg, anggota Dewan Penasehat Tinggi UNESCO, menolak saat disebutkan negara-negara Asia hidup dalam ”dunia” yang berbeda dengan negara-negara maju, khususnya Eropa. ”Kita hidup dalam dunia yang sama. Cara kita memandang dunia, saya pikir itu yang berbeda,” tuturnya dalam bahasa diplomatis.
Laporan: Valdesz J. Nainggolan, Bangkok Baca Lebih Lanjut »

WAJAH Noverizal pucat pasi. Ia amat keletihan seminggu ini. Tujuh hari pula pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengamen ini bolak-balik Sekupang-Seipanas-Batuaji. Dari RSUD, Noverizal harus ke Dinas Kesehatan Sekupang untuk kembali ke Puskemas Seipanas. Perjalanan melelahkan itu harus ia jalani sekadar memenuhi syarat administratif pengobatan Rizkya Aqnatasia, anaknya berusia satu tahun yang menderita kelainan di bagian anus.

RUMAH SAKIT adalah kehebatan masa silam. Dalam ingatan sebagian orang, senantiasa terekam kerepotan pelabuhan di kecamatan ini setiap pagi. Dulunya ada dokter ahli asal bedah Belanda dan sekolah mantri. Di usia mendekati 115 tahun, RS yang dirintis pada masa zending ini berdiri di tengah kenyataan bahwa 90,33 persen penduduk setempat tidak mampu berobat. BPS 2006 mencatat angka ini tertinggi di Kabupaten Samosir! Apakah yang salah?

SEORANG ibu dengan riang menengadahkan tangannya. Ia membuka lebar-lebar kedua telapaknya dengan wajah semringah. Di sebelah wanita separuh baya itu, berdiri seorang anak yang ikut-ikutan berbuat yang sama. Mereka tertawa, menikmati tempias air segar yang meluncur deras dari deretan pancuran yang berdiri tegak di bundaran di bilangan Jalan Gatot Subroto.
Medan

KEMISKINAN tecermin di buku statistik. Dan, itu ada mayoritas masyarakat petani di berbagai kecamatan di Samosir. Namun sebetulnya mereka punya modal: lahan yang terhampar luas meskipun kritis. Masa depan cengkeh yang mulai suram atau lahan tidur namun produktif barangkali dapat terjawab dengan tanaman Jarak.
P. Samosir

DI depan layar komputer Mashall menemukan Banglore. Di belahan Barat Asia itu, pria 73 tahun tersebut menjawab segala kecemasan atas penyakit akutnya. Berselancar ke sana ke mari di internet, Mashall menemukan paket wisata kesehatan yang ditawarkan rumah sakit di kawasan permai Banglore. Medical Tourism; sebuah konsep wisata yang patut dipikirkan di Pulau Samosir.
Pulau Samosir

”Sulit… semuanya penyakitan!” demikian ungkapan pahit yang dihadapi petani di Kabupaten Samosir, khususnya di Desa Rumahombar, Kecamatan Nainggolan, dan Desa Siriaon, Pusuk Buhit, Kecamatan Pangururan. Hampir 75% penduduk menggantungkan hidup dengan bercocok tanam dan beternak kerbau. Tapi kondisi lahan semakin kritis dan rentan hama. Tanah mulai jenuh dan tak lagi menyimpan kekebalan. Belum terhitung penyakit ternak atau kelangkaan air di geografis yang berbukit-bukit.
Pulau Samosir