Technology transfer will create investment opportunities that Indonesia is preparing to welcome. Technology transfer is expected to create investment opportunities in Indonesia. At the same time, many industries are expected to earn profits, both from key products and from carbon trading. Indeed, technology transfer will make carbon a potential market for Indonesia.

If Bali Can, Why You Can’t?
The invitation undertook spirit of nyepi by emptying the earth from the activity for one day became the interesting presentation that was put forward in opening ceremony of United Nation on Frame Convention Climate Change/UNFCCC) in Westin Hotel, Nusa Dua, Monday (3/12).
The short presentation from video streaming showed the atmosphere of the street and the settlement in Bali that was quiet when Hindu religion group undertook Nyepi to welcome their New Year (Saka) in 2006 or last year.

IT’S NOT JUST THE CARBON: FOREST
Carbon trading is still a hot issue on the fifth day of the Summit. Some developing countries have demanded that the mechanism of carbon trading be made more just. Indonesia, backed by seven other forest-rich countries, is going to push the REDD proposal be approved during conference so that credits for avoiding deforestation can also be traded. But some parties do not agree with using avoided deforestation for carbon trading, as in developing countries it is difficult to make such guarantees on the fate of the forest. So the best solution is mitigation, they say, by introducing better technology.

FROM SABANG TO MERAUKE; FROM IRWANDI TO SUEBU
Relieving your heart! The our national song: ‘’From Sabang to Merauke” was not yet a history junk. In one period, spirit of the song was represented to the world by Governor Aceh Irwandi Yusuf and Governor Papua Barnabas Suebu. Sabang is located in Aceh and Merauke is in Papua. They are in joint conference with President of UNFCCC Rahmat Witoelar and head delegation of Indonesia Emil Salim in Hotel Ayodya on Thursday (5/12). They act to pressured about the fundamental change against the damage forests in Aceh and Papua.

MAMPUKAH SEMANGAT PAPUA MENGINSPIRASI SUMATERA?
Sub judul dalam rilis yang dibagikan oleh Green Peace adalah cermin yang sesungguhnya. Problem: ”Rich Forest-Poor People”.
Realita itu barangkali yang membuat Gubernur Papua Barnabas Suebu menggandeng NGO dalam mempertahankan hak-hak rakyat Papua. Ini boleh disebut ”anti-teori” karena menyatunya dinamika kepentingan dua pihak yang senantiasa berseberangan.
Namun di pulau burung itu, mereka menyatukan hati dan pikiran dalam melawan tindakan eksploratif atas hutan-hutan Papua.

EMPAT PIHAK SIAP DANAI PROYEK REVITALISASI HUTAN
EMPAT pihak yang terdiri dari Bank Dunia, Inggris, Australia, dan Jerman siap mendanai proyek percontohan (pilot project) di sektor kehutanan yaitu pengurangan emisi dari bahaya pembabatan hutan dan pengurangan lahan (Reducing Emissions from Deforestration and Degradation/REDD).
Komitmen empat pihak untuk membantu program revitalisasi hutan Indonesia itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan RI M.S Kaban kepada pers seusai membuka Indonesin Forestry Parallel Event on CoP 13 UNFCCC di Hotel Ayodya Nusa Dua, Bali, Rabu (4/12).
Sejauh ini REDD belum diterapkan di negara mana pun di dunia. Dephut mengharapkan kelembagaan REDD yang mengatur teknis dan mekanisme diharapkan selesai pada 6 Desember ini.

TIGA ASPEK DALAM MENYIKAPI PERUBAHAN IKLIM
UNFCCC memunculkan tiga aspek penting dalam menyikapi perubahan iklim (climate change) di masa mendatang. Ketiganya meliputi persoalan ilmiah (scientific) dan seluruh detail teknisnya, kepentingan rakyat kecil, dan aspek politik masing-masing negara.
Demikian kesimpulan yang diperoleh dalam press briefing yang disampaikan oleh pimpinan delegasi dari Indonesia, Emil Salim.
Tanya jawab dengan mantan Menteri Lingkungan Hidup itu berlangsung di Pavillion Indonesia di kompleks Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Senin (3/12).

DUNIA DIAJAK MENYEPI
AJAKAN menjalankan nyepi dengan mengosongkan bumi selama sehari dari aktivitas menjadi presentasi menarik yang ditampilkan di sela-sela pembukaan konferensi perubahan iklim (United Nation Frame on Convention Climate Change/UNFCCC) di Hotel Westin, Nusa Dua, Senin (3/12).
Tayangan video (streaming) berdurasi 30 detik itu memperlihatkan suasana jalanan dan permukiman di Bali yang hening tatkala umat Hindu menjalankan Nyepi untuk menyambut tahun baru Saka setahun lalu.

HASIL UN CLIMATE CHANGE HARUS KONTEKSTUAL
NUSADUA- PERTEMUAN para pihak dalam konvensi perubahan iklim (United Nation Framework on Convention Climate Change/UNFCCC) yang berlangsung 3-14 Desember di Nusa Dua memperoleh desakan agar menghasilkan langkah yang kontekstual dalam menjawab problematika lingkungan di semua negara.
Hasil pembicaraan yang diarahkan mengganti Protokol Kyoto itu juga mempertanyakan kemungkinan agenda yang tidak bertabrakan dengan skenario pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.

Mari Sambut Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Perubahan iklim menjadi isu seksi yang dibawa dunia sekarang. Hal ini mungkin yang melatari Presiden SBY memindahkan ruang kerjanya ke Pulau Dewata selama dua pekan.
Presiden akan berada di Bali saat Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nation on Framework Climate Change/UNFCC) dihelat di Nusa Dua Bali pada 3 – 14 Desember 2007 pekan depan.
Ada ribuan utusan dari 193 negara. Presiden akan berkantor di Istana Tampak Siring yang sudah selesai dipugar itu. Anda tak perlu letih menghitung berapa berapa besar anggaran yang dikeluarkan PBB untuk acara ini.
Tapi saya pikir patutlah kita merenungkan apa dampak konferensi ini bagi negara-negera berkembang ke depan.








